Bengawan Solo Tercemar Parah, Warga Sragen Mengeluh Bau dan Gatal

Kondisi Bengawan Solo di Desa Tenggak Kecamatan Sidoharjo, Sragen.

Sragen –

Warga pinggiran Bengawan Solo di Sragen, Jawa Tengah mengeluhkan air sungai yang semakin hitam pekat dalam beberapa hari terakhir. Selain menimbulkan bau yang tidak sedap, kondisi air sungai berwarna hitam hingga memicu kematian ribuan ikan.

Kematian ribuan ikan ini terjadi setidaknya dalam tiga hati terakhir. Lestariyanti (38), salah seorang warga Dukuh Nglombo, Desa Tenggak, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, mengatakan kematian ikan ini terjadi dalam waktu bersamaan dengan kondisi air yang semakin pekat.

“Air sungai warnanya semakin hitam. Baunya juga tidak enak. Sejak tiga hari lalu, ikan-ikan mulai pada mati. Segala macam ikan dari patin hingga sapu-sapu,” ujar Lestariyanti ditemui wartawan di tepi Bengawan Solo, Senin (4/10/2019).

Banyaknya ikan yang mati membuat bau tidak sedap semakin kuat. Bau ini berangsur hilang setelah banyak bangkai ikan yang terbawa arus, maupun kering akibat panas matahari.

“Baunya parah sekali. Apalagi bagi saya yang tinggal pas di tepi sungai. Ini jelas asalnya dari limbah,” ujarnya.

Buruknya kondisi Bengawan Solo juga menyulitkan Lestariyanti dan suaminya yang berprofesi sebagai pencari pasir. Keduanya selalu terkena gatal-gatal setiap selesai mencari pasir di dasar sungai.

Lestariyanti berharap pemerintah segera turun tangan untuk mengatasi hal ini. Menurutnya, permasalahan limbah Bengawan Solo ini selalu menjadi permasalahan tiap tahun. Namun, lanjut Lestariyanti, belum ada solusi riil dari pemerintah untuk menanggulangi hal ini.

“Belum ada tindakan dari pemerintah. Bahkan kondisi Bengawan makin tahun justru makin parah. Beberapa tahun kemarin juga sempat ada petugas ngecek, tapi nggak ada tindak lanjut,” keluhnya.

Dimintai konfirmasi terkait hal ini, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sragen, Samsuri, mengaku telah menggelar rapat dengan Bupati Sragen terkait kondisi Bengawan Solo. Dia menduga buruknya kondisi Bengawan Solo ini terjadi akibat pembuangan limbah cair.

“Tapi limbah itu kan kemungkinan juga dari atas (hulu), tidak hanya dari Sragen saja. Untuk yang wilayah Sragen kita sudah ada rencana revitalisasi di anak-anak sungai untuk meminimalisir limbah. Kalau yang di Sragen, pabrik-pabrik besar itu kan sudah ada pengolahan limbah sendiri. Tapi kita akan cek lagi untuk memastikan,” terangnya.

Samsuri melanjutkan, pihaknya akan berkoordinasi dengan provinsi agar penanganan limbah ini bisa dilakukan secara lintas wilayah.

“Untuk yang di kabupaten lain, kita akan berkoordinasi dengan provinsi, karena sudah bukan wewenang kita,” terang Samsuri.

Sumber detik.com

Leave comment

WhatsApp chat